BERBAGI DENGAN KAWAN

Diam Bukan Berarti Menyerah

Islam Yes, Partai Islam No 5 Juni 2013

Filed under: Info — irsan93 @ 17:57

Kata-kata “Islam Yes, Partai Islam No” ini merupakan perkataan yang pernah dilontarkan oleh cendikiawan muslim Indonesia yaitu Nurcholis Madjid atau yang akrab dengan sapaan Cak Nur. Dalam buku Mengapa Partai Islam Kalah?, di situ Cak Nur yang diwawancara dengan pertanyaan “Bagaimana relevansinya dengan pernyataan anda dulu “Islam yes, partai Islam no”?. Cak Nur menjawab:

            “Itu sebetulnya membacanya kurang pas. Kegagalan partai-partai yang mengaku Islam itu adalah kegagalan simbol yang juga dialami Partai Nasionalis Indonesia. Misalnya, orang mendirikan partai Islam dengan lambang bulan-bintang. Itu kan ada semacam mitos bahwa tanda gambar bulan-bintang begitu kuat daya tariknya untuk memobilisasi dukung. Tapi, ternyata tidak. Tapi, jangan lupa yang gagal bukan hanya bulan-bintang. Gambar banteng dalam segita dengan nama Partai Nasional Indonesia-nya juga. Demikian juga gambar Nahdlatul Ulama kalau kita lihat kasus partai kebangkitan umat dan Partai Nahdlatul Umat. Begitu juga dengan Ka’bah kalau kita lihat kasus partai persatuannya HJ Naro dan lain-lain. Kalau seandainya Partai Kristen, Partai Kristen Indonesia muncul dan Partai Katolik juga muncul, saya kira juga tidak seberhasil seperti yang mereka harapkan, seperti terbukti dari kasus Partai Kristen Nasional dan Partai Katolik Demokrat. Saya berani taruhan bahwa seandainya Partai Komunis Indonesia diizinkan untuk pemilu dengan tanda gambar palu arit dan nama PKI, pasti juga gagal. Jadi, bangsa kita sebenarnya diam-diam mengalami kemajuan besar dalam wacana politik. Dengan demikiannya sekarang ini bangsa kita sudah berada dalan platformnya yang berbeda sekali dari pada tahun 1950-an. Inilah yang harus dibaca platform politiknya bergeser, simbol menjadi tidak penting. Orang mencari esensi.”[1]

Di sini bisa dilihat bahwa memang jika Islam dijadikan sebuah partai politik yang nantinya akan memimpin dan berkecimpung dengan berbagai paham yang ada dan ujung-ujungnya ingin memimpin sebuah negara, tentu di sini akan banyak persoalan-persoalan yang muncul. Apalagi di negara Indonesia yang kaya akan budaya, agama, ras, suku, dan lain-lain tentu akan menimbulkan banayak persoalan meskipun agama yang banyak dianut oleh masyarakat di Indonesia sendiri mayoritasnya adalah Islam. Persoalan yang akan muncul (khususnya di Indonesia) pertama ialah, ketika pemimpin yang menduduki jabatan yang paling tinggi di negara (presiden) yang terpilih oleh masyarakat dan para pendukungnya, maka kekuasaan itu kerap kali digunakan oleh pemimpin tersebut demi kepentingan  kelompoknya sendiri (para pendukung). Kedua, Islam merupakan sebuah agama yang universal, dalam artian bisa menaungi berbagai golongan, menaungi berbagai kepercayaan, berbagai ras, suku, budaya dan lain sebainya atau sering disebut juga bahwa Islam merupakan Rahmatan lil ‘alamin (Rahmat bagi seluruh alam), memberikan kedamaian bagi setiap makhluk, kesejahteraan, saling memberikan kasih sayang bagi sesama makhluk Tuhan (terutama antar sesama manusia), akan tetapi jika Islam ini sudah dijadikan sebuah alat partai politik yang hanya mengedepankan simbol-simbol tanpa mengedepankan substansi Islam itu sendiri hanya untuk meraut suara yang banyak demi kepentingan sendiri atau kelompok tertentu, dan yang amat disayangkan lagi ketika sebuah partai yang mengatasnamakan Islam ini mencoreng Islam itu sendiri, dalam artian bahwa Islam itu merupakan rahmatan lil alamin itu sudah tidak dijalankan, malahan kebalikan dari rahmatan lil alamin itu sendiri.

            Terlepas dari apa yang ada sebelumnya, mungkin saya ingin memberikan sedikit pandangan tentang awal mulanya partai didirikan. Tentu pada awalnya mereka yang mendirikan partai –partai apapun itu, baik yang berbau nasionalis, agamis, sosialis, dan lain sebagainya – memiliki tujuan dan harapan agar dapat mensejahterankan rakyat. Pada awalnya mereka yang terketuk hatinya ingin memberikan yang terbaik kepada seluruh lapisan masyarakat. Merumuskan sebuah tujuan yang mana di dalamnya terdapat keinginan yang kuat bahwa sanny ingin memberikan apa yang bisa dilakukan demi membangun, mengembangkan, membela, memajukan, mengolah apa yang menjadi kepentingan  rakyat. Mereka (yang mendirikan partai dan para kader partainya) memaparkan tujuan yang semuanya dengan rapi tidak bertolak belakang dengan peraturan apapun, baik peraturan negara, agama, ataupun dengan peraturan yang digunakan oleh masyarakat setempat, karena awal tujuannya benar-benar ingin memberikan apa yang bisa dilakukan demi membangun, mengembangkan, membela, memajukan, dan mengolah apa yang menjadi kepentingan  rakyat. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu dan perkembangan yang terus berjalan, visi, misi dan tujuan politik yang telah dipaparkan sebelumnya itu berubah menjadi kepentingan pribadi atau atau kelompoknya (kader) dan para pendunkungnya yang memiliki kepentingan sendiri tanpa melihat keberagaman (ras, agama, suku, dll) yang ada di dalam sebuah negara. Baik itu dikarenakan terpengaruh buruk dari luar partai yang melakukan pelobian terhadap partai agar dapat meloloskan sebuah proyek yang nantinya mendapatkan upah yang dapat memenuhi kepentingan pribadinya atau kelompoknya atau bahkan para pendukungya.

            Ada juga partai politik didirikan yang memeng pada awalnya hanya untuk dijadikan alat kepentingan tertentu. Apa yang dibutuhkan oleh parpol akan terpenuhi, karena ada yang mendanai agar supaya yang mendanai jika mempuanyai proyek yang menguntungkan pribadinya dapat diloloskan atau dibela oleh parpol yang didanainya.

            Jadi, di sini bisa dilihat (pra duga) bahwa sebuah partai yang didirikan itu ada landasan tertentu. Sehingga apa yang terjadi pada pertai tersebut dapat terlihat, di antaranya:

  1. Partai yang awalnya didirikan dengan landasan benar-benar ingin mengusahakan kepentingan rakyat, akan tetapi dalam perjalanan ada oknum yang terkena “keserakahan” yang mencoreng nama partai itu sendiri.
  2. Partai yang memang awal didirikannya dengan landasan ingin memanfaatkan parpol sebagai alat hanya untuk kepentingan pihak tertentu.

Pendapat saya tentang apa yang ada kasus yang terkena pada partai-partai yang ada di Indonesia, bisa dilihat bahwa apakah kasus itu terjadi atas dasar karena “keserakahan pribadi” ataukah adanya pihak luar yang menyelundupkan oknum-oknum yang sengaja untuk menghancurkan partai tersebut.

Kemudian pendapat saya mengenai perkataan Cak Nur yang berkenaan dengan “Islam yes, partai Islam No”  saya setuju. Karena Islam bukan hanya terbatas pada kepentingan kenegaraan saja, dan jika ada sebuah kasus yang terjadi pada partai yang mengatas namakan dan yang identik dengan “partai Islam”. Semua kesalahan  partai ditujukan kepada ajaran dan orang-orang Islam yang membuat musuh-musuh Islam bertepuk tangan (senang) atas apa yang terjadi pada sesuatu yang mengatasnamakan Islam. Lebih baik partai yang tidak mengatasnamakan Islam tetapi memakai/menggunakan nilai-nilai yang Islami.


[1] Deliar Noer, Mengapa Partai Islam Kalah? (Jakarta: Alvabet, 1999), Cet. I, hlm. 287

About these ads
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.